Kajian Al-Qowa’id Al-Arba’ (5)

Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja’far

๐ŸŒทMuqoddimah๐ŸŒท

ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ู„ู‡ู ุญูŽู…ู’ุฏู‹ุง ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุง ุทูŽูŠูู‘ุจู‹ุง ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู‹ุง ูููŠู’ู‡ู ุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูุญูุจูู‘ ุฑูŽุจู‘ูู†ูŽุง ูˆูŽ ูŠูŽุฑู’ุถูŽู‰ ุŒ ูˆูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ : ูŠูŽุขูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ุฐู‘ููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆู’ุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ูุŒ ูˆูŽ ู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆู’ุชูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽ

ูˆูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ุฏูŽู‚ูŽ ุงู„ุญูŽุฏููŠู’ุซู ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุŒ ูˆูŽ ุฎูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู‡ูŽุฏู’ูŠู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ูˆูŽ ุดูŽุฑู‘ูŽ ุงู„ุฃูู…ููˆู’ุฑู ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ูˆูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉู

ุฃู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏู ุŒ

Segala  puji bagi Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya. Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, namun tidak banyak nikmat yang diberikan olehNya kita manfaatkan untuk kebaikan dan ketaatan. Patut bagi kita untuk selalu intropeksi diri setiap langkah yang kita lalui dalam kehidupan dunia ini.

๐ŸŒนKaedah Keempat๐ŸŒน

 ุงู„ู‚ุงุนุฏุฉ ุงู„ุฑุงุจุนุฉ

ุฃู†ู‘ ู…ุดุฑูƒูŠ ุฒู…ุงู†ู†ุง ุฃุบู„ุธ ุดุฑูƒู€ู‹ุง ู…ู† ุงู„ุฃูˆู‘ู„ูŠู†ุŒ ู„ุฃู†ู‘ ุงู„ุฃูˆู‘ู„ูŠู† ูŠูุดุฑูƒูˆู† ููŠ ุงู„ุฑุฎุงุก ูˆูŠูุฎู„ุตูˆู† ููŠ ุงู„ุดุฏู‘ุฉุŒ ูˆู…ุดุฑูƒูˆุง ุฒู…ุงู†ู†ุง ุดุฑูƒู‡ู… ุฏุงุฆู…ุ› ููŠ ุงู„ุฑุฎุงุก ูˆุงู„ุดุฏู‘ุฉ. ูˆุงู„ุฏู„ูŠู„ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽูƒูุจููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ููู„ู’ูƒู ุฏูŽุนูŽูˆู’ุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูุฎู’ู„ูุตููŠู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูŽ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽุฌู‘ูŽุงู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูู…ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒููˆู†) ุงู„ุนู†ูƒุจูˆุช:65(.
โคKaidah keempatโค

Artinya : โ€œSesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (yaitu: pada masa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah). Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terjadi dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit. *Dalilnya adalah firman Allah Taโ€™ala*,

ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽูƒูุจููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ููู„ู’ูƒู ุฏูŽุนูŽูˆู’ุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูุฎู’ู„ูุตููŠู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูŽ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽุฌู‘ูŽุงู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูู…ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoโ€™a kepada Allah dengan memurnikan ketaโ€™atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS.Al- Ankabut: 65).
๐ŸŒนPenjelasan๐ŸŒน :

 โ€œPenetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, ditinjau dari sisi saat kesulitan/tertimpa musibah, kaum musyrikin zaman sekarang tetap menyekutukan Allah Taโ€™ala.โ€.

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan keadaan musyrikin ketika mereka berada dalam keadaan bahaya, menaiki kapal lalu ditimpa angin kencang dan khawatir tenggelam, mereka berdoโ€™a kepada Allah semata dengan ikhlas dan tidak berdoโ€™a kepada patung-patung mereka, karena mereka tahu bahwa tidak ada satupun yang mampu menyelamatkan mereka kecuali Allah.

Namun ketika mereka selamat di daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.
๐Ÿ’พInti Kaidah Keempat : Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang[1] lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, ditinjau dari sisi tertentu,yaitu :

๐ŸŽ™Kaum musyrikin dahulu mentauhidkan Allah dalam berdoโ€™a, ketika tertimpa musibah atau sedang kesulitan,namun menyekutukan Allah ketika keadaan senang dan lapang, dengan menyembah patung, pohon dan batu.

๐ŸŽ™Adapun musyrikin sekarang, menyekutukan Allah baik ketika senang dan lapang, maupun ketika sulit dan tertimpa musibah,bahkan bisa jadi ketika tertimpa musibah tambah besar kesyirikannya.

โ›”Kaum musyrikin dahulu menyembah pohon, para Nabi dan sholihin. Adapun musyrikin sekarang menyembah semua sesembahan yang disebutkan di atas dan menyembah orang kafir atau fasik, orang-orang yang tidak shalat , tidak puasa dan tidak meninggalkan perbuatan keji, karena diyakini orang yang disembah itu sudah tidak berlaku baginya Syariโ€™at tentang pengharaman sesuatu, Syariโ€™at itu diyakini hanya berlaku bagi orang-orang awam.[2]
๐ŸŒนFaedah kaedah ini ๐ŸŒน:

Menggugah kesadaran banyak orang, bahwa walaupun suatu zaman sudah modern, namun ketika seseorang tidak berilmu tentang kesyrikan dengan benar atau ilmunya sangat kurang atau kurang diingatkan kembali akan bahayanya kesyirikan, maka sangat memungkinkan terjatuh ke dalam kesyirikan. Bahkan, bisa jadi kesyirikan yang dilakukannya lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin yang dihadapi Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dahulu.

Maka, tidak ada jaminan bagi suatu negeri yang berteknologi tinggi dan bagi negara yang maju, bahwa negara tersebut pasti penduduknya selamat dari kesyirikan ! Karena kemuliaan suatu negara itu adalah ketika penduduknya mengetahui dengan baik ajaran agama Islam dan mengamalkannya. Sedangkan ajaran agama Islam teragung dan asas perbaikan masyarakat terbesar adalah tauhid !

*Dengan demikian, pelajaran tauhid relevan dikaji di sepanjang zaman dan di semua tempat!* Salah satu manhaj ahlussunnah wal jamaโ€™ah adalah selalu mementingkan tauhid dari yang lainnya.
๐ŸŒทูˆุตู€ู€ู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู€ู€ู„ู€ู€ู€ู… ุนู€ู€ู„ู€ู‰ ู†ู€ุจู€ู€ูŠู€ู€ู†ู€ุง ู…ู€ุญู€ู€ู€ู…ู€ู€ุฏ ูˆุนู€ู€ู„ู€ู‰ ุขู„ู€ู€ู‡ ูˆุตู€ู€ุญู€ู€ุจู€ู€ู‡ ุฃุฌู€ู€ู…ู€ู€ุนู€ูŠู€ู€ู† ูˆุขุฎุฑ ุฏุนูˆุงู†ุง ุฃู† ุงู„ุญู€ู€ู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู€ู€ู† ุงู„ู€ู€ุฐูŠ ุจู€ู€ู†ู€ู€ุนู…ู€ุชู‡ ุชุชู… ุงู„ุตุงู„ุญุงุช.๐ŸŒท

_____________________________

[1] Zaman Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab pada abad 12 H atau awal Abad 13 H, sebagaiaman dijelaskan di kitab Syarh Al-Qowaโ€™id Al-Arbaโ€™ oleh Syaikh Khalid bin Abdullah Al-Muslih hal. 23 (tambahan : Dan kesyirikan itu menjamur sampai sekarang di zaman kita -Allahu Mustaโ€™an-)

[2] Lihat penjelasan lebih lengkap yang semakna dengan ini di Kitab Syarh Al-Qowaโ€™id Al-Arbaโ€™ oleh Syaikh Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hal 30-31.
๐Ÿ’พBisa disimak di website : http://wawasanislamdunia.blogspot.co.id/2017/04/kajian-al-qowaid-al-arba-5.html?m=1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s