Pendidikan Adalah Politik Tertinggi

 

Oleh: KH. Dr. (HC) Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.

Gontor bukan saja sebagai lembaga pendidikan keilmuan, tapi juga sebagai lembaga kaderisasi dan kepemimpinan, pada kenyataannya, Gontor dengan segala kekurangannya masih eksis dan selalu berkembang dengan memiliki cabang di beberapa tempat. Tidak mudah untuk mengendalikan gerakan dan aktivitas yang dilaksanakan di masing-masing tempat. Apalagi potensi dan karakteristik SDM yang heterogen. Bisa jadi masing-masing memiliki obsesi untuk mewarnai lingkungan baik nilai dan sistemnya sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan selera masing-masing. Bila hal ini terjadi maka akan muncul persaingan dan salah persepsi sehingga akhirnya kelangsungan hidup Gontor akan terancam. Disinilah dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan memenej yang menyeluruh dan totalitas, seperti memenej lingkungan, SDM (guru, santri, keluarga, dan pembantu-pembantu pondok), sarana, prasarana dan sebagainya. Dengan bahasa lain, bahwa pemimpin harus memiliki strategi politik untuk mengatur ritme kehidupan pondok secara menyeluruh. Aplikasi pendidikan politik di Gontor tercermin pada kemampuan seorang pemimpin dalam: mendelegasikan tugas kepada pembantunya, menentukan personel sesuai dengan potensinya, mengontrol seluruh aktivitas akademis dan non-akademis (pelaksanaan sunah-sunah pondok, administrasi, keuangan, yayasan, kepengasuhan, KMI, UNIDA Gontor, dll), mengendalikan seluruh SDM dan aktivitas dalam satu bendera yaitu Gontor, membuat keseimbangan antara ukhuwah Islamiyah dan persaingan dalam rangka fastabiqu-l-khoiraat. Orientasi dari pendidikan politik ini adalah, Efektifitas kegiatan pondok (dengan adanya kontrol, arahan pengendalian langsung dari pimpinan diharapkan seluruh aktivitas pondok baik pusat maupun cabang menyeluruh pada satu persepsi, yaitu visi, misi, nilai dan sistem Gontor. Dan juga dihindari dari kegiatan yang berdasarkan pada kepentingan dan selera pribadi), menghindari konflik (otoritas pimpinan dan ketegasannya dalam mengatur ritme kehidupan pondok dengan segala aktivitasnya merupakan sebuah upaya mencegah konflik antara individu atau sektor dalam berbagai macam permasalahan, dan ekonomi kesejahteraan keluarga) dan legitimasi person (seseorang tidak akan melaksanakan tugas dana amanah dengan baik kecuali mendapat legitimasi dari pimpinan, dengan legitimasi tersebut, seseorang akan mendapat kekuatan. Pengasuh pondok cabang misalnya, mampu menjalankan tugasnya dengan baik, mampu mengatur dan mengendalikan guru dan santri serta mendapat dukungan masyarakat karena kekuatan dari Pimpinan Gontor, bukan karena pribadinya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s