Mengalah Bukan Berarti Kalah

Diam bukan berarti lemah,
Mengalah bukan berarti kalah,
Menunggu bukan berarti tidak mampu,
Pasrah bukan berarti menyerah..

Melainkan sadar akan kemampuan diri sendiri, agar tetap tahu dimana saat yang tepat untuk bersikap Berani, Tegas, Mengalah, dan Pasrah..

Karena, ada kalanya kenyataan hidup ini mengharuskan kita bersikap….
Diam untuk memberanikan diri..
Mengalah untuk kemenangan hati..
Menunggu untuk mengendalikan nafsu..
Pasrah untuk melapangkan hati dalam diri agar tetap bisa menerima dan mensyukuri apapun kenyataan hidup yang terjadi..

Terkadang kemenangan yang sejati bukan dari para pemenang, berapa banyak pemenang yang hatinya jatuh dan terpuruk sehingga tidak bisa menikmati kemenangannya sendiri. Melihat lebih dekat terhadap apa yang sering menimpa manusia, ketika manusia diliputi nafsu untuk selalu menjadi yang teratas bak bunga teratai. Bahkan konflik di dunia ini sengaja dikonsep untuk menjadikan apa yang mengalahkan manusia di depan mata, memperkaya hatinya dengan hal yang lebih penting dan menguntungkan dirinya di dunia dan akhirat.

 

Konflik dan Perdebatan

Musyawarah sebagai jalan yang disyari’atkan oleh Islam:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Asy Syura : 38)

Isi Kandungan Ayat sebagaimana dijelaskan tafsir Quran Karim karya Mahmud Yunus:

  1. Perintah kepada setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah.
  2. Perintah Allah kepada setiap muslim untuk mendirikan Shalat.
  3. Menggunakan jalur musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap perkara.
  4. Menafkahkan sebagian rizki kita kepada orang-orang yang tidak mampu.

Berbeda dengan musyawarah yang telah disyari’atkan oleh islam, konflik dan perdebatan yang melampaui batas menyebabkan perubahan hati seseorang menjadi keras sehingga enggan untuk menerima hidayah, memaksa para pendebat untuk berfikir panas menjauhi cara berpikir yang jernih. Membuat mereka terjerat ke dalam emosi yang memaksakan mereka berdebat untuk menjatuhkan lawan, jauh dari hasil yang diharapkan menguntungkan dan seimbang bagi kedua belah pihak. Dan tentu saja setelah perdebatan yang melampaui batas tersebut, bermunculan benih – benih kebencian yang menghantui kedua belah pihak. Seolah – olah menutupi mata dan hati nurani diri mereka masing – masing. Dan tak ada yang selamat dari keterpurukan tersebut kecuali orang – orang yang diberi rahmat dan hidayah oleh Allah SWT.

Konflik dunia akan berulang di akhirat

Inilah bagian yang paling berat. Tekanan batin akibat konflik akan kembali dimunculkan di hari akhir. Terkadang, kita berkeinginan agar konflik yang kita lakukan tidak diketahui orang lain, namun bisa jadi, ini akan ditampakkan di hadapan seluruh makhluk. Allah berfirman,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ. ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

Kamu akan mati dan mereka akan mati. Kemudian, kalian akan berdebat di sisi Rabb kalian pada hari kiamat.” (QS. Az-Zumar:30–31)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan,

إن هذه الآية -وإن كان سياقها في المؤمنين والكافرين، وذِكْر الخصومة بينهم في الدار الآخرة-فإنها شاملة لكل متنازعين في الدنيا، فإنه تعاد عليهم الخصومة في الدار الآخرة

“Ayat ini, meskipun konteksnya tentang orang mukmin dan orang kafir serta mengingatkan tentang perdebatan antara mereka di hari kiamat, namun juga mencakup semua pelaku konflik ketika di dunia. Perdebatan antara mereka ini akan diulangi lagi di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7:96)

Kemudian, beliau membawakan sebuah atsar, yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, bahwa ketika ayat ini turun, seorang sahabat yang bernama Az-Zubair bin Awam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah perdebatan yang terjadi di antara kita akan diulangi lagi (di akhirat) setelah terjadi di dunia ini, selain beban dosa yang kita tanggung?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Betul! Sungguh, perselisihan kalian akan diulangi, sampai semua hak dikembalikan kepada pemiliknya.” Setelah itu, Zubair berkomentar, “Jika demikian, berarti peristiwanya sangat mengerikan ….” (HR. Ahmad dan Turmudzi; dan dinilai sahih oleh Al-Albani; lihat juga Tafsir Ibnu Katsir, 7:96)

Karena itu, wajar jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu orang yang jelek di sisi Allah adalah orang yang paling “sulit” ketika berkonflik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أبغض الرجال إلى الله الأَلَدُّ الخَصِم

Orang yang paling Allah benci adalah orang yang sulit ketika berkonflik.” (HR. Muslim)

Jadilah orang yang suka mengalah

Semoga ini bisa meringankan beban kita ketika di akhirat. Berusahalah untuk menyelesaikan konflik di dunia ini secara tuntas. Jangan ada lagi perasaan yang masih mengganjal dan jangan sampai itu dibiarkan. Bila perlu, berusahalah untuk senantiasa mengalah, meskipun secara zahir kita dirugikan. Ini mungkin sangat berat, namun bukan berarti ditinggalkan. Semuanya bisa dilatih dan dibiasakan. Hanya saja, bagi mereka yang belum terbiasa, diperlukan sedikit waktu untuk belajar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak janji keutamaan bagi orang yang memiliki sikap mengalah. Dalam sebuah hadisnya, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

Semoga Allah merahmati orang yang ‘lugu’ ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menuntut hak.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, dari sahabat Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Saya memberi jaminan, agar mendapatkan rumah di sekitar surga, bagi setiap orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani

Merendahlah sehingga tak ada yang dapat merendahkanmu

Mengalahlah sehingga tak ada yang dapat mengalahkanmu

Tidak ada pilihan bagi kita yang berusaha untuk mencari kesimbangan di dalam kehidupan ini, kecuali untuk mengalah pada beberapa konflik dan perdebatan yang mengkondisikan diri kita untuk mengalah. Kuasailah perasaan anda untuk tidak goyah akibat tekanan batin akibat konflik yang terjadi. Wallahu-l Musta’an.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s