Ranah Kehidupan

 

Hidup bukan asal hidup saja, ada ranahnya. Berikut adalah ranah kehidupan manusia yang telah diatur dan diperhitungkan:

 

1. Pandangan Hidup (Aqidah)

keyakinan, sebagai dasar dari kehidupan. Menyeluruh ke dalam seluruh aspek kehidupan yang nampak dan tidak. Aqidah tersebut adalah faktor terpenting. Pasalnya, segala amal perbuatan tanpa didasari dengan aqidah yang lurus adalah kekosongan. Pandangan dan keyakinan yang lurus adalah hal yang mutlak dan tidak dapat diubah. Harus sesuai dengan syahadahnya seorang muslim.

أشهد أن لا اله إلاّ الله وأشهد أنّ محمّدا رسول الله

Apapun pekerjaan, status sosial dan bagaimana pun keadaan kita. sebagai seorang manusia tentu keyakinan tersebut harus tetap di pegang teguh. Tanpanya, segalanya yang kita lakukan tidak lah bernilai. Marilah kita bekerja di niatkan secara utuh untuk mengabdi kepada Allah ‘azza wa jalla. Pekerjaan sekecil apapun yang diniatkan untuk Allah akan lebih bernilai dibandingkan dengan pekerjaan – pekerjaan besar tanpa ditanamkan didalamnya Aqidah Tauhid, tidak akan ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

2.  Jalan Hidup (Syari’ah)

Setelah pandangan hidup yang lurus, syari’ah berperan sebagai jalan untuk menggapai tujuan yang telah digalakkan (Khusnul Khatimah). Jalan hidup ini pun telah diatur oleh islam itu sendiri.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang beriman, patuhlah kepada Allah, patuhlah kepada Rosul dan orang-orang yang memerintah (Ulil Amri) diantara kamu (Kaum muslimin)(QS. An-Nisa: 59)

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Jika kamu menghukumi diantara manusia, maka hukumilah kamu dengan (hukuman) yang adil (QS. An-Nisa: 58)

Berbeda dengan aqidah yang bersifat mutlak, tidak dapat di ganggu gugat. Syari’ah bisa bersifat fleksibel, tergantung dengan keadaan dan kemampuan setiap muslim. Bahkan islam pun menyadari hal tersebut, karena sang maha pencipta lebih memahami ciptaan itu sendiri. Seperti dalam hal puasa :

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 158)

Dan masih ada lagi beberapa syari’at lainnya yang bisa bersifat fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi seorang muslim. Karena sesungguhnya Allah tidak menghendaki kesukaran bagi hambanya. Itulah Syari’at, Islam itu mudah tapi jangan dipermudah.

 

3. Pola hidup (Akhlaq)

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung” (QS. Al-Qalam : 4)

Tidak kalah pentingnya dengan Pandangan (Aqidah) dan Jalan Hidup (Syari’ah), pola hidup (Akhlaq) memiliki peranan yang penting dalam proses perjalanan hidup. Bagaimana perjalanan hidup dibawah naungan syari’at, ditentukan oleh tingkat kemuliaan akhlaq seseorang.

 

4. Gaya Hidup (Etika dan Estetika)

Gaya hidup ini yang nanti akan mempengaruhi akhir dari proses kehidupan. Ketika kita sudah memiliki pandagan hidup yang jernih, jalan hidup yang lurus, serta akhlaq yang mulia, inilah kewajiban selanjutnya untuk menjaga gaya hidup kita dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sebenarnya ketika ditelusuri lebih lanjut, gaya hidup manusia telah diperhatikan dan diatur oleh islam secara keseluruhan. Seperti halnya etika dalam pergaulan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Dan tentunya masih banyak lagi dalil – dalil dari Al-qur’an dan sunnah yang membahas tentang gaya hidup manusia. Terlihat betul perbedaan orang yang menerapkan gaya hidup islami dengan yang meninggalkan gaya – gaya hidup yang telah diajarkan dalam islam. Bahkan kebersihan, kemodernan, kemanusiaan semuanya telah diajarkan dalam islam. Gaya hidup mana yang bertentangan dengan islam ? sampai ada gaya hidup yang bertentangan dengan islam, maka sesungguhnya hal tersebut bukanlah gaya hidup manusia. Siapa pencipta kehidupan? manusia? maka tidak akan berarti argumen  manusia yang membantah gaya hidup yang telah diajarkan oleh islam. Sang pencipta sudah sepatutnya lebih memahami ciptaannya. Karenanya kita harus percaya kepada ajaran sang maha pencipta, ajaran islam.

Jangan sampai kita hanya islam saja, tetapi meniggalkan nilai – nilai isalm yang telah diwariskan dan diajarkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s